IND | ENG

Selamat Datang di MUSEUM MACAN

Welcome to MUSEUM MACAN

EXHIBITION GUIDE
MELATI SURYODARMO: WHY LET THE CHICKEN RUN?

Melati Suryodarmo (l. Surakarta, Indonesia, 1969) adalah salah satu seniman Indonesia yang namanya telah diakui secara internasional. 'Why Let the Chicken Run?' adalah pameran tunggal pertama Melati di dalam museum, dan menampilkan karya-karya penting dari lebih 20 tahun praktik keseniannya. Pameran ini menampilkan karya-karya performans terjadwal, fotografi, video performans, serta dokumentasi yang bersifat historis.

'Why Let the Chicken Run?' melakukan pelacakan terhadap praktik artistik Melati dengan menghadirkan karya-karyanya yang berdurasi panjang. Karya-karya berdurasi panjang Melati dalam pameran ini berdurasi mulai dari tiga hingga dua belas jam. Melalui karya-karya seperti I'm A Ghost in My Own House (2012) (performans selama duabelas jam) dan The Black BallT (2005) (dilakukan selama empat hari berturut-turut dengan durasi antara delapan hingga sepuluh jam setiap harinya), sang seniman menantang ketahanan tubuh baik secara fisik maupun psikologis, dan berada dalam pencarian kesadaran spiritual yang lebih dalam. Praktik kesenian Melati terpengaruh oleh Butoh - sebuah bentuk tari radikal yang muncul pasca perang dunia di Jepang; hubungan yang mendalam dan berkelanjutan dengan seniman lain; pendidikan seni di Eropa, serta penyelidikannya terhadap tradisi budaya Jawa. Pengaruh yang kaya dan beragam ini dieksplorasi dengan beragam pilihan arsip pribadi yang ditampilkan juga dalam pameran ini.

Melati telah berpameran dan menampilkan karya-karyanya secara luas di seluruh dunia. Saat ini ia tinggal di Indonesia dan Jerman. Salah satu hal mendasar bagi praktik kesenian Melati adalah keinginannya untuk memupuk praktik kesenian yang merespon lingkungan budaya Jawa tempat ia berada, seraya melibatkan percakapan global tentang kekuatan dan sifat seni seraya mempertahankan percakapan global mengenai peran seniman dan kesenian di masyarakat.

Tentang seni performans
Seni performans telah memainkan peranan penting dalam perkembangan seni kontemporer di Indonesia. Seni performans menawarkan pengalaman artistik secara langsung kepada para penonton, melalui berbagai tindakan pada momen spesifik di waktu tertentu (seringkali dalam penampilan langsung). Seni performans berbeda dengan teater dan seni tari, namun terkadang dapat menghadirkan bebagai macam aksi secara bersamaan. Ditampilkan baik di dalam maupun di luar museum, seni performans menginisiasi diskusi tentang kehidupan, tubuh, dan dunia yang kita tinggali. Partisipasi dan keterlibatan penonton adalah salah satu komponen penting dalam seni performans, dan karya - karya yang ditampilkan seringkali mendorong penonton untuk memikirkan persoalan baik yang bersifat pribadi, politis, maupun kontroversial - dengan sudut pandang yang beragam.

EXHIBITION GUIDE
MELATI SURYODARMO: WHY LET THE CHICKEN RUN?

Melati Suryodarmo (b. Surakarta, Indonesia, 1969) is one of Indonesia's internationally acclaimed artists. 'Why Let the Chicken Run?' marks the artist's first solo presentation within a museum and presents significant works from over 20 years of art practice including scheduled live performances, photography and video performances, and historical documentation.

'Why Let the Chicken Run?' traces Melati's artistic practice through the presentation of her incredible long-durational performance pieces that range from three to twelve hours in duration. Through these long-durational works such as I'm A Ghost in My Own House (2012) (a twelve hour performance) and The Black Ball (2005) (which is performed for between eight to ten hours, over a four day cycle), the artist challenges her body physically and psychologically in pursuit of a deeper spiritual understanding of the self. Her artistic practice is influenced by Butoh - a form of radical dance theatre that emerged in postwar Japan; deep and ongoing relationships with other artists; a formal art education in Europe as well as investigations into Javanese cultural traditions. These rich and varied influences are explored in the exhibition through the inclusion of a selection from her personal archive.

Melati has exhibited and performed extensively around the world, and lives between Indonesia and Germany. Fundamental to Melati's artistic output, is a desire to cultivate a practice which responds to her immediate Javanese environment, whilst engaging a global conversation about the power and nature of art.

About performance art
Performance art has played a key role in the development of contemporary art in Indonesia. It is a genre which proposes a direct artistic experience to the audience, through actions at a specific moment in time (often in real time). It is not theatre, nor dance, but sometimes brings together all kinds of actions. Presented both inside and outside the museum, performance art initiates discussion about life, the body, and the world we live in. The participation and involvement of the audience is an important component, and artworks often challenge and encourage spectators to think about issues - personal, political or controversial - in different ways.

Event

25 Feburary - 31 May 2020

Loading...